Minggu, 29 Juli 2018

Losing the red string (end)


PART 4

Hari-hari kulalui dengan sangat berat. Aku mencoba menyibukkan diri dengan persiapan wawancara beasiswa selanjutnya mengerjakan tesis. 

Semua fokus perhatian kualihkan pada dua hal tersebut.

Aku mati-matian menghindari Kak Darius dan seperti biasa Kak Darius sama sekali tidak merasa aneh dengan sikapku yang mendadak dingin. Mungkin karena dia tidak pernah memiliki perasaan kepadaku sehingga tidak menanyakan lebih lanjut.

Enam bulan kemudian aku jujur pada Tante Dyah jika aku ingin membatalkan pertunangan. Awalnya Tante Dyah tidak mau menerima keputusanku tapi setelah kujelaskan jika aku memilih melanjutkan studi dan menyadari tidak ada itikad Kak Darius untuk meneruskan hubungan, akhirnya dengan berat hati Tante Dyah mau menerimanya.

Aku menarik napas dalam kemudian memasuki sebuah restoran di Grand Indonesia. Hari ini aku sudah membuat keputusan. Keputusan akan masa depanku. Dua orang yang duduk di depanku itu tampak terkejut ketika aku mengundang mereka makan siang dalam waktu yang bersamaan. Mereka menatapku penuh curiga. Tersirat ketakutakan dan kecemasan dalam wajah kedua orang itu.

Aku menatap mereka berdua dalam waktu yang lama dan dalam diam, tanpa keluar satu patah kata pun. Aku membeku di tempat seperti seekor elang yang mengamati mangsanya.

"Rika, sebenarnya ada apa ini?" tanya Kak Erina hati-hati.

Aku mendesah napas, "Aku memutuskan untuk melanjutkan studiku."

"Studi?" Kak Darius menatapku bingung.

"Apa ini semua salahku?" tanya Kak Erin dengan wajah bersalah—tanpa basa-basi seperti biasanya. "Kamu sudah mengetahui hubungan kami?" Kak Darius menambahkan dengan wajah terkejut.

Aku mengangguk pelan. "Aku sudah berpikir lama. Aku sudah tidak bisa lagi menggoyahkan hubungan Kak Darius dan Kak Erina meski aku sudah berusaha keras. Aku pun memutuskan apply program beasiswa dan akhirnya diterima."

"Rika, hubunganku dengan Darius tidak seperti apa yang ada di pikiranmu!"

"Memangnya Kakak mengerti apa yang kupikirkan?" tanyaku lalu terkekeh pelan meskipun tidak ada yang lucu. "Mungkin mudah bagi Kak Erina menjalin hubungan dengan pria mana pun tetapi aku tidak. Aku tidak tahu apakah perasaan Kak Erina pada Kak Darius itu serius atau hanya perasaan sesaat karena Kak Erina selalu..." 

Aku menghentikan kalimatku di udara. Tidak perlu menjelaskan jika Kak Erina sejak dulu selalu mendekati pria yang diam-diam kusukai. Sampai saat ini aku tidak mengerti apa motifnya.

"Aku sudah tidak apa-apa lagi karena ada hal yang lebih penting daripada sekedar asmara." Aku pun bangkit dari tempat dudukku kemudian pergi meninggalkan kedua orang itu.

Cintaku pun berakhir di sini. He is not the right man. Benang merah takdir kami tidak pernah terikat dan aku salah dalam mengenalinya.

Aku berjalan sambil menggigit bibir, menahan air mata yang hendak berjatuhan. Kakiku terus melangkah hingga tubuhku terhuyung ke belakang ketika seseorang menabrakku.

Air mataku semakin mengalir deras, bukan karena rasa sakit karena terjatuh melainkan sudah tidak bisa lagi menahan rasa sesak itu.

"Ah... I'm sorry." Suara berat seorang pria meminta maaf dengan nada panik dan aku masih dalam posisi yang sama. "A—apa kamu tidak apa-apa?" tanyanya dengan logat orang asing sambil mengulurkan tangan.

Aku mendongak dan menemukan manik biru seluas samudra dalam matanya. Seperti terhipnotis, seperti mengalami dilatasi waktu di mana beberapa detik itu terasa begitu lama. Sementara kulihat pria itu juga sama terkejutnya dengan diriku. Dia menatapku lama.

Aku mengusap air mataku kasar lalu menerima uluran tangannya dan bangkit. "A—aku tidak apa-apa," ucapku dengan suara serak dan tidak berani menatap wajahnya.

Aku terlalu malu setelah dia mendapatiku menangis histeris hanya karena sebuah tabrakan. Pria itu tidak berkomentar dan masih bergeming di tempatnya seperti sebuah patung. Aku pun melarikan diri dan memutuskan untuk pergi.

Usahaku gagal. Tangan pria itu tiba-tiba menarikku dari belakang dan memaksaku menatapnya.

"Are you Erika?"

Aku mengerjap-ngerjapkan mata sambil berpikir siapa gerangan pria asing ini. Aku tidak pernah mengingat pernah mengenal pria asing yang bertubuh jangkung ini.

"Saya Lukas. Kita bertemu di international conference Bangkok tahun lalu."

Aku mengangguk dengan wajah bingung. Kenapa pria yang fasih menggunakan bahasa Indonesia itu mengingat namaku dalam waktu yang lama walaupun aku tidak pernah berkenalan dengannya secara khusus dan bertemu sekali.

"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya, membuyarkan lamunanku.

Aku kembali mengangguk dan dia membalasku dengan senyum secerah mentari musim panas yang silau dan menyengat. "Ka—kalau tidak keberatan, sebagai permintaan maaf karena menabrakmu, bagaimana kalau aku mentraktirmu minum kopi di kafe sebelah?"

End.

***
Bagainana pendapat kamu mengenai cerita ini?


Link for cerita lengkap:


#pernikahan #perjodohan #cerita #cerpen #romance #mahasiswa #Googleplay #ebook #bukudigital #bukuelektronik #novel #novelindonesia #novelmurah #novelromance #sad #sedih #dotinglover #cinta